Direktur Amir Mahmud Center Surakarta: Wawasan Kebangsaan harus Didukung dengan Nilai-nilai Religius

- Jumat, 16 September 2022 | 15:24 WIB
Foto : Dr. H. Amir Mahmud, M.Ag, Direktur Amir Mahmud Center Surakarta
Foto : Dr. H. Amir Mahmud, M.Ag, Direktur Amir Mahmud Center Surakarta

URBANJAKARTA - Direktur Amir Mahmud Centre Surakarta, Dr. H. Amir Mahmud, M.Ag, mengatakan bahwa wawasan kebangsaan tanpa di dukung dengan nilai-nilai religius akan menjadi agama yang hanya berdasarkan logika cara berpikir seperti barat yakni individual dan sekulerisme.

Hal itu tidak dapat dibenarkan, karena menurutnya, perumusan demokrasi di Indonesia berbeda dengan demokrasi barat.

Penyataan tersebut disampaikan oleh Amir Mahmud, dalam kegiatan 'Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dengan Nilai-Nilai Religius' yang digelar pada 15 September 2022 di Masjid Fatimah Az Zahra tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Takmir Mesjid sekitar Desa Temuwanggi.

"Dimana Tokoh NU dan Muhammadiyah telah merumuskan nilai-nilai kebangsaan yang tepat dan Pancasila sudah final, harus difahami dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," ucap Direktur Amir Mahmud Centre Surakarta, H. Amir Mahmud, pada Kamis, malam Jumat, 15 September 2022 di Masjid Fatimah Az Zahra Dk. Wonorejo Ds. Temuwangi Kec. Pedan Kab. Klaten.

Baca Juga: British School Jakarta Sukses Jadi Tuan Rumah untuk Kegiatan The Harvard Crimson Summer Leadership Academy

Ia menjelaskan, bahwa pernah ada masa dimana nilai-nilai Pancasila ingin dirubah menjadi paham Komunis yaitu PKI dan ekstrim kanan Karto Suwiryo dengan mendirikan NII atau DI/TII.

"Setelah subversi muncullah adanya radikalisme dan terorisme. Terorisme bukan proyek, apabila ada statement bahwa Terorisme adalah proyek itu adalah tidak benar, jangan-jangan pihak yang melontarkan pernyataan tersebut adalah orang yang ingin merongrong ideologi Pancasila," kata Amir Mahmud.

Jelasnya lagi, bahwa aksi terorisme di Indonesia adalah Fakta, kemunculan NII, JI, MII, JAT, JAS dan ISIS itu semua adalah produk buatan kelompok radikal.

"Tim Densus 88 AT Polri menangkap para teroris bukan karena Islamophia tetapi berdasarkan data dan alat bukti," tutur Amir Mahmud.

Menurutnya, data Ponpes yang berafiliasi dengan kelompok JI dan ISIS berjumlah 177 buah di Indonesia terbanyak di Jawa Tengah. Pola dan gerakan mereka sangat halus, namun kadang konfrontatif berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Halaman:

Editor: Nadiza Nur Arsy Mosa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

4 Keunggulan Kuliah di Universitas STAN, Mari Simak!

Jumat, 2 Desember 2022 | 08:26 WIB
X